Showing posts with label Politik. Show all posts
Showing posts with label Politik. Show all posts

Tuesday, April 30, 2013

E-KTP masih rawan dipalsukan

By duwi siswanto | At 4:11:00 AM | Label : , , , , | 0 Comments

Saya menurunkan tulisan ini setelah saya prihatin melihat adanya beberapa hal yang menurut saya bias dan tidak relevan antara pernyataan para pejabat/lembaga terkait dengan fakta dilapangan sehubungan dengan diterbitkannya e-KTP secara nasional.

Saat ini terjadi semacam ‘pembodohan’ publik, terkait dengan penerbitan e-KTP di Indonesia. Mengapa saya bisa mengambil kesimpulan seperti itu ?
Kita mulai dahulu dengan definisi e-KTP. Apa itu e-KTP ?

e-KTP sesuai dengan informasi dari situs wikipedia adalah electronic-KTP (e-KTP) adalah Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang dibuat secara elektronik, dalam artian baik dari segi fisik maupun penggunaannya berfungsi secara komputerisasi.
Mari kita cermati definisi diatas. Kata kuncinya ada pada kata kata terakhir, yaitu berfungsi secara komputerisasi.


Artinya apa ?

e-KTP hanya berfungsi bila didukung dengan teknologi dan perangkat komputer.  Berarti, bila tidak didukung oleh perangkat Komputer, maka fungsi ‘electronic’ nya akan hilang atau terabaikan  dan menjadi seperti KTP konvensional biasa.

e-KTP dan KTP konvensional, sama sama berfungsi sebagai Kartu Pengenal (Identitas).  Nah sekarang,  apakah perbedaan antara e-KTP dan Konvensional ?
Saya mencoba merangkum dari berbagai sumber dan perbedaan yang paling sisgnificant adalah :

  1. Pada fisik e-KTP terdapat struktur yang terdiri dari sembilan layer yang akan meningkatkan pengamanan dibanding  KTP konvensional.  Ada sebuah  Chip yang ditanam di antara plastik putih dan transparan pada dua layer teratas. Chip ini memiliki antena didalamnya yang akan mengeluarkan  gelombang jika digesek. Gelombang inilah yang akan dikenali oleh alat pendeteksi e-KTP sehingga dapat diketahui apakah KTP tersebut berada di tangan orang yang benar atau tidak.
  2. e-KTP mampu menyimpan data secara electronic sehingga data yang telah tersimpan, tidak dapat dimanipulasi oleh pihak yang tidak bertanggungjawab.`
    Sekali saya tegaskan bahwa e-KTP tidak dapat berfungsi secara electronic bila tidak dihubungkan dengan ‘electronic devices’  lainnya seperti card reader, software, network, database dlsb.


Bagaimana kita bisa mengetahui bahwa sebuah e-KTP itu asli atau palsu ?

Tentu cara yang paling efektif adalah dengan menggunakan Card Reader, yang mana Card reader dapat mendeteksi e-KTP tsb secara selectronic apakah asli atau bukan. Card reader tentu saja harus terkoneksi dengan data base, agar dapat diakses data yang terkait dengan e-KTP yang bersangkutan.
Pertanyaannya adalah bisakah kita mengetahui sebuah e-KTP asli atau bukan bila kita tidak menggunakan Card reader ? Dimana kita bisa dapatkan Card Reader atau tempat resmi untuk melakukan verifikasi e-KTP ? Semuanya ini belum disusun sistemnya !

Nah, disinilah letak kelemahan program e-KTP massal ini. Sebab yang sekarang dilakukan oleh pemerintah sekarang hanya memproduksi secara massal e-KTP sebatas fisik Kartunya saja (artinya hanya sebatas berfungsi sebagai kartu pengenal Identitas diri), sedangkan sarana dan prasarana, fasilitas pendukung, kebijakan pemerintah dan sistem penggunaan e-KTP agar dapat berfungsi secara electronic  tidak dibangun secara komprehensif.

Memang harus diakui, dengan eadanya e-KTP, tidak akan ada lagi penduduk Indonesia yang memiliki KTP ganda, tapi bukan berarti e-KTP tidak bisa dipalsu.

Maksudnya begini, fungsi  utama kartu identitas adalah sebagai alat bukti bahwa benar data pemegang KTP tsb sesuai yang tertera pada KTP. Nah, bila kartunya saja sudah dipalsukan, tentu saja data dan foto serta tandatangan sudah dimanipulasi.

Mengapa fisik kartu e-KTP mudah sekali dipalsukan ?

Karena secara fisik,  e-KTP tidak ada bedanya dengan KTP Konvensional, jadi yang tampak adalah kartu plastik biasa. (padahal didalam kartu e-KTP terdapat Chip dan rangkaian electronic namun tidak terlihat). Artinya sama saja dengan KTP Konvensional, dan tentu saja ini bisa dipalsu atau digandakan.

Berikut ini akan saya berikan  ilustrasinya :


1. Kasus pemalsuan Identitas.

Bila anda datang ke Bank, dan akan membuka Rekening, atau menarik  sejumlah dana dari rekening anda, tentu yang pertama diminta petugas bank adalah e-KTP asli anda. Bank berusaha mengamankan seluruh rekening nasabahnya dan hanya mengijinkan pemilik rekening yang berhak menarik dana. Untuk itulah anda harus bisa menunjukkan bukti kepada petugas bank, bahwa anda memang pemilik rekening dan berhak atas penarikan dana dari rekening anda sendiri. Kemudian anda menyerahkan e-KTP anda sebagai bukti identitas diri anda.

Pertanyaannya, bagaimana bank bisa mengetahui e-KTP anda asli atau palsu, bila tidak tersedia card reader dan tidak tersambung dengan Pusat Data ?

Yang bisa dilakukan oleh petugas bank tersebut semata mata hanyalah mencocokkanwajah dan tandatangan anda, apakah sesuai yang tertera di KTP atau tidak. Hanya sebatas itu saja.  Dan Bank hanya memfotocopy KTP anda, lalu menyimpan nya sebagai arsip dan bukti pembukuan bank.

Dalam kasus ini, dimana letak perbedaan e-KTP dan KTP konvensional ? Sama saja bukan?

2. Arsip yang disimpan berupa foto copy

Masih berkaitan dengan butir 1 diatas, setelah anda pergi meninggalkan bank, yang tertinggal dan tersimpan sebagai arsip bukti identitas anda hanyalah selembar fotocopy e-KTP. Sedangkan  dokumen berupa fotocopy, sangat mudah dipalsu dan dimanipulasi.
Seharusnya, e-KTP digunakan sebagai bukti transaksi ketika kartu anda terdeteksi oleh Card Reader. Jadi arsip yang disimpan berupa data dan informasi, bukanlah selembar kertas hasil fotocopy !

Nah, kembali lagi,  itu semua hanya bisa terjadi bila bank telah dilengkapi dengan Card Reader dan terhubung dengan pusat data. Tapi apa yang sekarang  terjadi adalah, jangankan mengurusi Card Reader, sedangkan proses pembuatan kartunya saja masih bermasalah dan  belum juga selesai ?

13480563281852848589

Ada hal yang lebih penting lagi adalah, apakah penggelontoran dana untuk membiayai  proyek e-KTP secara nasional senilai Rp. 5, 8 Triliun tersebut adalah efektip dan sesuai dengan tujuannya ?

Apakah itu hanya buang buang uang saja, sebab  pada kenyataannya, e-KTP tidak bisa difungsikan secara optimal, artinya hanya sebatas sebagai kartu identitas diri saja meskipun fungsi e-KTP  dapat menjamin bahwa masing masing penduduk hanya memiliki satu kartu saja.

Atau itu hanya sekedar ‘bluffing’ agar memberi kesan bahwa negara kita sudah punya sistem administrasi kependudukan yang baik seperti yang dilakukan oleh negara maju lainnya ?

Sementara itu, pihak yang berkepentingan terutama Kemendagri menyatakan bahwa secara bertahap e-KTP akan disempurnakan.

Tapi kapan e-KTP bisa dioptimalkan fungsinya , terutama fungsi data electronic didalamnya ?  Tidak semudah itu, sebab perlu anggaran yang besar , sistem yang baik dan melibatkan banyak pihak terutama berkaitan dengan fungsi elektronik yang dapat mendukung transaksi  keuangan/bisnis dan kebutuhan lainnya.

Menurut saya masalahnya bukan itu, seharusnya proyek e-KTP secara massal (nasional) harus dilaksanakan secara paket dan komprehensif, maksudnya harus pula disediakan anggaran untuk membangun struktur dan infrastruktur sehingga dapat berfungsi secara masimal. Oleh sebab itu, diperlukan biaya dan alokasi anggaran yang sangat besar.

Karena sebab itulah maka tidak semua negara mampu menyelenggarakan proyek e-KTP secara nasional.

Bila  hanya sekedar memproduksi fisik kartu e-KTP  yang berfungsi sebagai kartu identitas diri dan mencegah adanya KTP ganda,  rasa rasanya biaya yang telah dikeluarkan yaitu  Rp. 5,8 Triliun dinilai terlalu besar, artinya tidak sebanding dengan manfaatnya.

bukankah begitu?????

Sumber : Solution

Monday, April 29, 2013

UN Mulai Diendus Adanya Korupsi

By duwi siswanto | At 10:18:00 AM | Label : , , | 0 Comments

TEMPO.CO , Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi menaikkan status pengusutan kisruh Ujian Nasional 2013 dari proses telaah ke tahap pengumpulan bahan dan keterangan (pulbaket). Komisi pun mulai mencari data dan dokumen terkait dengan proses pelelangan yang membuat UN tertunda di sebelas provinsi.

Juru bicara KPK, Johan Budi S.P., mengatakan dalam tahap pulbaket tersebut, tim Pengaduan Masyarakat akan mengumpulkan bahan dan data dari berbagai pihak, baik dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, maupun dari pelapor.

"Pada saat pulbaket ini, kalau nantinya ditemukan ada indikasi tindak pidana korupsi di dalamnya, maka akan disimpulkan naik ke tahap penyelidikan," kata Johan, Ahad, 28 April 2013.

Saat proses penyelidikan, kata Johan, tim penyelidik akan mulai meminta keterangan berbagai pihak yang diduga mengetahui proyek tersebut. Tetapi, Johan tidak dapat memastikan berapa waktu yang dibutuhkan tim Pengaduan Masyarakat untuk menyimpulkan bahwa pengusutan kisruh UN ini dapat ditingkatkan statusnya dari pulbaket ke tahap penyelidikan. "Bisa sebulan, bisa juga sampai satu tahun," kata Johan.

Pada 15 April lalu, pelaksanaan UN Sekolah Menengah Atas dan sederajat tepaksa diundur di sebelas provinsi karena PT Ghalia Indonesia Printing --pemenang pencetakan UN paket tiga dengan anggaran Rp 22,48 miliar-- telat mendistribusikan soal ujian. Menteri Pendidikan M. Nuh pun menyatakan Ghalia masuk "daftar hitam" di Kementerian.

Ghalia mencetak soal untuk sebelas provinsi, yaitu Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Selain Ghalia, ada lagi lima perusahaan pencetak soal UN seperti PT Temprina Media Grafika, PT Pura Barutama, PT Jasuindo Tiga Perkasa, PT Belabat Dedikasi Prima, dan PT Karya Wira Utama.

Sehari setelah kisruh, Koalisi Masyarakat untuk Pendidikan di antaranya Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra), dan Indonesia Corruption Watch melaporkan ke KPK ihwal dugaan permainan dalam proses tender UN. Koordinator Fitra, Ucok Sky Khadafi, mengatakan Koalisi melaporkan temuan awal ihwal dugaan adanya korupsi proyek pencetakan dan distribusi soal UN tersebut.

Menurut Johan, di samping kisruh UN, KPK juga dalam tahap pulbaket kasus Kurikulum Pendidikan 2013. Alokasi anggaran kurikulum 2013 ini mencapai Rp 2,491 triliun, di antaranya untuk penggandaan buku sebanyak 72,8 juta eksemplar bernilai Rp 1,2 triliun, dan pelatihan 690 guru sebesar Rp 1,09 triliun.

RUSMAN PARAQBUEQ

Sumber : Yahoo

Wednesday, April 17, 2013

Dajjalisme Informasi

By duwi siswanto | At 2:47:00 PM | Label : , , , , , , | 0 Comments

Menutup tulisan ini, mungkin Anda semua  ada yang menganggap saya pecinta "kekerasan" kan? atau saya anggota FPI? Tidak. Seumur-umur saya tak kenal Habib Rizieq, apalagi ikut aksinya. Saya hanya bicara bagaimana efek dramatis siaran sebuah TV dan keadilan menyampaikan kebenaran.

FPI pasti punya salah dan semua kelompok juga punya salah. Hanya saja, media kita sering menutup mata banyak peristiwa, apalagi menyangkut umat Islam. Contoh kecil; adalah Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan berbagai pemikirannya banyak melawan otoritas ulama sedunia dan yang telah disepakati dalam Islam. Mereka hanya kelompok kecil, tidak sampai ratusan. Tetapi oleh media dan TV, semua pikirannya "dipaksakan" agar diterima 200 juta penduduk negeri ini. Adilkah? jelas tidak. Sementara FPI--di luar aksi keras-nya-- ia pasti mewakili harapan mayoritas umat Islam (ada MUI, NU, Muhammadiyah, Al Irysad, Al Wasliyah, Al Khairat, Persis, BKMT, HTI, PKS, Wahdah, ICMI, Hidayatullah dan masih banyak lagi), yang jelas sepakat memberangus kemaksiatan, peredaran minuman keras, pelacuran dll.

Itulah yang sering tak dipahami media. Sehingga banyak orang (khususnya umat Islam), media dan TV lebih memilih minoritas yang tak pernah mewakili ratusan juta umat ini. Jika nilai keadilan ini tak pernah dipahami media, percayalah, satu FPI Anda tutup, kelak bisa saja akan lahir ribuaan FPI di berbagai daerah. Media harus peka sosial di mana ia tinggal. Kita tinggal di negeri dengan penduduk Muslim terbesar, kenapa kepekaan sosial seperti ini sering diabaikan?

Pernah mendengar cerita tentang Dajjal, makhluk besar bermata satu yang muncul menjelang hari kiamat? Makhluk kutukan ini bisa dengan mudah menjadikan manusia berbondong-bondong ingkar kepada Allah. Inilah yang dirasakan masyarakat terhadap berbagai tayangan-tayangan  "menyesatkan" media dan TV kita saat ini.

Lantas apa yang harus kita lakukan, sebagai bagian dari umat ini? Memang tidak mudah. Jika 'dajjalisme informasi' ini terus melahirkan standar moral rendahan dan ketidak-adilan, lambat-laun, aksinya akan mengurung dan mengerdilkan entitas ruh dan imajinasi umat Islam. Bukan tak mungkin, seperti tugas Dajjal, di mana tujuan utamanya adalah "memurtadkan" umat Islam dari ajaran agamanya.  Sebelum kita memiliki pilihan yang layak, sebaiknya, "Singkirkan 'kotak setan' itu dari rumah kita sekarang juga!".

Sumber : Hidayatullah

Irasional Khayali

By duwi siswanto | At 2:41:00 PM | Label : , , , , , | 0 Comments


Dari sekian banyak media massa yang dinyawai oleh kapitalisme, TV adalah satu-satunya yang dianggap oleh berbagai ahli sebagai "setan" paling biadab. Apa yang disuguhkan media massa dalam bentuk lain terakumulasi pada televisi. Ia menyuguhkan bacaan, gambar dan suara sekaligus sehingga bukan hanya mampu mengisi dan mewarnai imajinasi, tapi juga menyihir dan mengendalikan seluruh fungsi-fungsi kejiwaan lainnya.


Jean Baudrillard, seorang filosof Prancis, mengungkap sebuah hakikat tentang televisi. Menurutnya, seperti dikutip Yasraf Amir Piliang (dalam bukunya Sebuah Dunia yang Dilipat, Mizan), rangkaian tontonan yang disuguhkan oleh "kapitalis mutakhir" (bernama televisi), telah menyulap (membius) individu-individu menjadi kumpulan mayoritas yang diam (terhipnotis) . Bagaikan sebuah kekuatan sihir yang sangat dahsyat, media menjadikan massa yang diam itu layaknya sebuah layar raksasa yang pasrah dijejali dan dilalui oleh segala sesuatu yang naif. 


Televisi, membius ratusan juta orang dari yang paling bodoh sampai profesor, dari penjahat sampai guru agama, dari balita sampai tua renta, untuk sebuah tontonan sepak bola dini hari. Namun, adakah makna hakiki dan luhur yang berbekas seusai tontonan itu? Di dalam tontonan sepak bola bukan makna (ideologis, moralitas dan spiritualitas luhur) yang dicari para penggilanya, melainkan semacam ekstasi (kepuasan puncak yang sangat sesaat) dari kedangkalan ritual dalam upacara menonton televisi itu sendiri.


Tontonan sejenis, reality show (pertunjukkan nyata) seperti Akademi Fantasi, Indonesian Idol, Kontes Dangdut, Dreamband dan masih banyak lagi, bagi saya adalah "kejahatan spiritual",  yang menggiring masyarakat hanya memburu mimpi dan budaya konsumtif. 


Di hadapan massa yang mabuk seperti itu, pesan-pesan TV yang rendah (serakah, dengki, licik, dusta) merasuki alam bawah sadar mereka dan mengakar kokoh di simpul-simpul kejiwaannya. Apalagi jika para produser, wartawan dan pembawa beritanya punya interest idiologis dan kebencian dengan kelompok lain. Klop!.


Walhasil, televisi yang jadi cermin masyarakat, tapi masyarakat yang jadi cermin televisi. Apapun yang "dilakukan" televisi pasti diikuti masyarakat. Ini karena televisi telah menciptakan ketidaksadaran massal. Meski,  di situ ada indoktrinasi yang sadis dan nilai-nilai sesat.


Leonard Irwin, dosen psikologi dari Universitas Illionis, AS, bersama timnya mengadakan penelitian mengenai hal ini. Mereka menemukan bahwa anak-anak yang pada usia delapan tahun telah menyaksikan tayangan negatif, ketika dewasa akan cenderung melakukan perbuatan jahat dan tidak punya belas kasihan.


Sunday Times pernah menulis, "Meskipun AS memiliki 440 ribu polisi federal, setiap jam terjadi dua kali pembunuhan, 194 kali perampokan bersenjata, 10 kali pemerkosaan terhadap wanita dan anak-anak, dan 600 kali pencurian di rumah-rumah. "


Bodohnya, televisi di negeri kita telah menjadi teman setia dalam keluarga. Seolah hidup kurang lengkap tanpa kehadiran televisi . 

Sumber : Hidayatullah

Tuesday, April 16, 2013

Data Ekspor Jagung Indonesia dari Tahun 2001 sampai dengan 2012

By duwi siswanto | At 8:59:00 AM | Label : , , , , | 1 Comments

Skripsi oh skripsi, proposalku yo gak mari mari, yak opo ngene ikii,,
haaa, gak tau dah, yang penting aku tetep berusaha dan berusaha agar dosenku yakin bahwa skripsi ku nanti menghasilkan formula yang mempunyai nilai jual jikalau dijual oleh orang yang ahli,, syangnya aku belum menjadi seorang ahli,
hahahha..
Diselingi membantu teman gak pa2 kan,, niat tulus membantu temen yang lagi kesusahan, ikhlas demi Lillahi Ta’ala,
Aku membantu sesama, dan semoga dibalas oleh Tuhan Yang Mahakuasa, aku menolong sesama  dan semoga Tuhan balik menolongku,
aminnnn..
oke guys, buat Dita Nadia Faradina, mungkin data ini bisa membantu sedikit untuk menyusun proposalnya,,
DOWNLOAD DISINI

Sunday, July 1, 2012

Pilkada Jakarta

By duwi siswanto | At 6:54:00 AM | Label : , | 0 Comments
Politik raya sebentar lagi akan melanda DKI Jakarta, para calon pun banyak yang berkampanye di sana dan di sini. Namun, lagi-lagi kecurangan terjadi, money politik terselubung marak berkeliaran, bahkan ada yang memdapat ancaman teror dan diculik agar tidak memilih suatu calon cagub dan cawagub..

haaaaaaahhh,, sampe kapan sih politik di Indonesia kita akan seperti ini terus..???

Thursday, March 29, 2012

Ada Suatu Konspirasi Besar Dibalik Olimpiade 2012

By duwi siswanto | At 1:59:00 PM | Label : , , | 0 Comments
Mengapa Indonesia semestinya tidak mengirimkan atlet ke ajang Olimpiade 2012? Jawabannya adalah karena di balik ajang tersebut tersembunyi misi jaringan organisasi dunia Freemasonry yang mana di abad 21 ini sudah mulai berdakwah secara terang-terangan. Bukan rahasia lagi apabila dunia ini tengah berada dalam cengkeraman Freemason, sebuah organisasi sekular dan pemuja Dajjal. Segala bidang satu persatu dikuasai oleh mereka. Termasuk dalam bidang olahraga. Mereka kerap menggunakan simbol-simbol esoteris dan pagan dalam mengembangkan dan menyebarkan ajaran mereka. Seperti lambang mata horus yang juga terdapat dalam uang satu dollar Amerika Serikat. Namun di dalam ajang Olimpiade 2012, lambang Horus Eye atau All Seeing Eye itu dimodifikasi sedemikian rupa sehingga tampak menarik, lucu, dan disukai oleh semua orang yang akan dengan mudah terhipnotis atau tanpa sadar menerimanya serta tidak mengecek apa yang berada di balik penggunaan simbol-simbol tersebut dalam sebuah kompetisi olahraga.
1332354961819104774
1332355093150085536
Untuk mengubur kecurigaan masyarakat dunia tentang maskot yang diberi nama Wenlock dan Mandeville itu, mereka berdalih bahwa simbol tersebut menampilkan dua tetes baja dari industri baja di Bolton sebagai simbol semangat. Padahal itu semua hanya ilusi guna merekayasa pandangan dunia. Dan satu lagi pesan tersembunyi yang tertera di gambar maskot tersebut adalah adanya logo yang bertuliskan london beserta lambang klasik cincin olimpiade. Namun sesungguhnya jika kita jeli maka akan didapatkan sebuah anagram yang akan menampilkan maknanya.
13323555721971079596Jika kita memecah logo ini menjadi kepingan puzzle, maka akan kita dapatkan sesuatu yang bertuliskan:
13323556521765106389Yak, Zion alias Zionisme. Sudah barang tentu sama-sama kita ketahui bahwa organisasi zionis berusaha menguasai Timur Tengah dengan mendirikan negara Israel Raya dengan mencaplok, tidak hanya Palestina, namun nantinya adalah seluruh wilayah di Jazirah Arabia. Manuver zionis tidak hanya menguasai media-media di seluruh dunia, tetapi juga menguasai pasar modal, dan lembaga-lembaga dunia. Bahkan di Amerika Serikat, mereka mempunyai perkumpulan tersendiri yang doyan melobi gedung putih dan kongres agar mengeluarkan kebijakan-kebijakan demi kepentingan mereka. Salah satunya yang terbaru adalah menggunakan keanggotaan Amerika di sejumlah organisasi internasional untuk menekan anggota lainnya agar bungkam terhadap kejahatan Rezim Zionis Israel.
Apakah Indonesia harus turut berpartisipasi demi kepentingan Freemasonry lewat underbow-nya zionis ini? Ingatlah sabda Nabi bahwa, “Man Tasyabbaha Biqaumin Fahuwa Minhum. Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari golongan mereka (kaum yang diserupainya itu).” Oleh karena itu Indonesia sebagai negara yang pro atas kemerdekaan Palestina, dan juga penduduk Indonesia yang mayoritas muslim, sudah seharusnya memboikot ajang-ajang yang disponsori atau dijadikan media dakwah Freemasonry.

Monday, February 6, 2012

Ribetnya Birokrasi Indonesia

By duwi siswanto | At 2:27:00 AM | Label : , | 0 Comments
Cerita tentang ribetnya birokrasi yang didapatkan oleh Elang Biru sangat banyak sekali,,
bahkan sampai kebingungan untuk posting.. hehehehe... gak.. gak.. 
nah, ini cerita yang cukup untuk direnungkan juga,,
yahh siapa tahu DPR atau Presiden yang sok sibuk dan sok mewah menyempatkan membaca.. hehehe..

Saya baru saja dapat kabar dari teman tentang lowongan penerimaan tenaga pengajar di sebuah universitas swasta terbesar di Kota Makassar. Parahnya, hanya tertinggal satu hari aktif untuk menyelesaikan semua urusan administrasi persyaratan berkas yang diwajibkan oleh pihak kampus. Sebenarnya sih, saya selalu menyiapkan map coklat berisi individual portofolio yang terdiri atas fotocopy ijazah dan transkrip nilai yang telah dilegalisir, curriculum vitae, surat lamaran kerja, fotocopy KTP, surat keterangan berbadan sehat, foto ukuran 3x4 dan 4x6 serta semua berkas-berkas lainnya yang mendukung cv saya. Map seperti ini tidak hanya satu. Setidaknya saya memiliki 10 map dengan isi yang sama untuk lamaran pekerjaan dan 10 map lainnya untuk keperluan beasiswa luar negeri yang berisi fotocopy ijazah dna transkrip nilai dalam bahasa inggris yang telah dilegalisir, curriculm vitae, rekomendasi dari dosen dan pimpinan tempat saya bekerja dulu, fotocopy KTP dan akte kelahiran dalam bahasa inggris, surat keterangan berbadan sehat, proposal tesis, sertifikat TOEFL, foto dan berkas penunjang cv lainnya.

Seharusnya saya tidak mesti keteteran seperti ini, mengingat persiapan saya yang cukup matang jauh hari sebelumnya. Hanya saja, saya masih kekurangan satu berkas yang disyaratkan yaitu SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian). Nah ini nih yang membuat saya harus pontang panting kesana kemari, naik turun tangga dari satu pos ke pos berikutnya. Padahal waktu yang tersedia begitu sempit. Jujur, saya pernah mendapat informasi 3 jam sebelum closing date, tapi masih bisa mengikutkan diri karena memang kesiapan berkas-berkas saya. Tapi kali ini terasa lebih berat karena harus memulai pengurusan berkas mendadak.

Saya memang tidak pernah mengurus ataupun membuat SKCK. Karena saya merasa tidak memerlukan hal tersebut untuk melamar pekerjaan yang saya suka, yang sama sekali tidak berhubungan dengan dunia Pegawai Negeri Sipil. Sejak dulu, akal dan pribadiku yang dinamis tidak pernah bisa menerima label PNS. Mungkin saking kuatnya tertanam dalam benakku betapa buruknya menjadi seorang PNS.  Rajin,-malas sama, pintar-bodoh juga sama. Apresiasi atas prestasi yang diberikan kadang timpang. Begitulah fakta yang selalu kudapatkan dilapangan. Ah! Tapi selalu ada pengecualian untuk PNS sebagai seorang dosen ataupun pengajar. Yaa.. mungkin karena saya memang suka mengajar, maka label PNS untuk bagian inipun ter'maaf'kan.

Karena ini yang pertama kali, maka saya sedikit kebingungan bagaimana dan dimana mengurus SKCK ini. Syukur, beberapa teman saya sudah berpengalaman mau berbagi informasi. Maka kamis pagi-pagi sekali, saya meninggalkan rumah menuju kantor lurah untuk mengambil surat pengantar. Di sana saya mengisi form yang berisi data diri dan keperluan. Selesai pengisian, blanko itu ditanda tangani oleh pihak kelurahan dan diberi stempel di dekat tanda tangan tersebut. Biaya administrasi yang harus dikeluarkan sebesar Rp 10.000

Selesai urusan di kantor lurah, saya diharuskan ke kantor polsek. Beberapa teman ada yang bilang harus ke kecamatan dulu, tapi karena pihak kelurahan merekomendasikan langsung ke Polsek, maka sayapun melangkahi pos kecamatan.

Di Polsek, harus memperlihatkan surat pengantar dari kelurahan tersebut disertai dengan fotokopi KTP, ijazah terakhir, kartu keluarga dan foto 3x4 2 lembar dan 4x6 1 lembar. Biaya administrasi di pos ini juga sebesar Rp 10.000. Setelah itu, petugas akan menuntun ke tempat pemeriksaan sidik jari. Di pos ini, banyak sekali item yang harus diisi. Tentang data diri, sudah pasti ada. Nah, yang bikin ribet, form yang diberikan berisi banyak pertanyaan mendetil tentang tubuh kita. Jika form yang diberikan sudah terisi lengkap dengan menyetor foto 4x6 sebanyak 2 lembar dan 3x4 sebanyak 1 lembar, maka akan dilakukan pemeriksaan sidik jari dan menetapkan rumus yang berlaku seumur hidup. Biaya administrasi yang dikenakan sebanyak Rp 20.000 dengan kartu sidik jari berwarna kuning bisa dibawa pulang.

Selanjutnya harus ke Polres. Di sini nih yang bikin saya kesal. Soalnya sangat tidak praktis! Siang itu, selepas makan coto di pinggir jalan, saya menuju Masjid Babul Jannah Urip Sumohardjo untuk sholat dzuhur. Saat mengamini do'a, sayapun bergegas ke kantor Polres di Jl. Ahmad Yani. Tiba di sana sekitar pukul setengah dua. Saat masuk ke dalam, seorang berseragam polisi, menahan saya di pos security. Pertanyaannya standar, siapa? mau kemana? urusan apa? Untuk apa? Setelah menjawab itu semua, sayapun diperbolehkan masuk kedalam.

Berhubung ini kali pertama saya berada di Polres, sayapun kebingungan mencari akses untuk naik ke lantai tiga (soalnya kata bapak polisi di security tadi, saya harus ke lantai tiga di bagian intel. Sayangnya, tidak menginstruksikan kemana menuju lantai tiga. Mana bangunannya tidak jelas pula karena dimana-mana hanya ruangan dengan bentuk yang sama). Mondar-mandir eh.. kembali lagi ke garis awal. Payah! di sini tidak jelas papan informasinya atau karena kecerdasan parsialku yang kurang yaa??.Maka sayapun bertanya kemana jalan menuju lantai tiga.

Alhamdulillah sampai juga di lantai tiga. Di sini, saya merasa malu sekali karena salah masuk ruangan. Begini nih akibatnya kalau tidak tersedia papan informasi setiap ruangan. Sambil meminta maaf pada beberapa bapak yang sedang santap siang, sayapun menutup ruangan berpintu kaca riben itu dengan pelan-pelan.

Berkat bantuan seseorang yang juga sedang mengurus SKCK, sayapun akhirnya menemukan ruangan tersebut. Saya masuk ke dalam dan menyetor berkas yang telah dilengkapi di polsek tadi. Tidak lama kemudian, sayapun diberikan form berlembar-lembar untuk diisi. MasyaAllahh.. pertanyaannya buanyaaaak amat! Mana menunggunya juga tidak sebentar.

Jika form yang diisi itu sudah lengkap, form tersebut dikembalikan dengan menyetor foto 4x6 sebanyak 2 lembar dan menunggu lagi. 20 menit berlalu, saya akhirnya dipanggil. Kupikir, semuanya sudah beres karena SKCKnya telah diterbitkan dan diharuskan membayar Rp 20.000 sebagai biaya administrasi (soalnya, kalau sudah selesai transaksi pembayaran, berarti sudah selesai dong urusannya). Nyatanya, saya harus kembali lagi ke lantai dasar untuk memfotokopi dan mengembalikannya lagi ke lantai tiga untuk dilegalisir. Sangat tidak praktis bukan? Masa sih polres sebesar ini tidak memiliki mesin fotokopi diruangan?
Hmm.. pengurusan SKCK aja seribet ini. Gimana yang lainnya ya? :D

Birokrasi SKCK

By duwi siswanto | At 2:17:00 AM | Label : , | 0 Comments
Ini ada sebuah cerita yang ane kutip dari blog sobat Elang yang ane rasa sangat unik dan berhak untuk mendapat sorotan dari para pembaca,,
juga untuk sekedar perenungan.. hehe..

oke silakan langsung disimak saja..

hari ini hari yang membahagiakan buat gw, setelah semaleman di bikin sakit perut nungguin result summer class, pas pagi gw check tenyata gw pass bahkan credit..jadilah pagi ini senyum nempel di muka gw….bayangan gw pake regalia bulan juli besok makin jelas….gelar B.com di belakang nama pun makin nyata.

tapi ada kerjaan lain yang harus gw kerjain…dan kerjaan ini sedikit memakan waktu, bensin dan kesabaran…hari ini gw mau ngurus SKCK atau surat keterangan catatan kepolisian atau ada juga yang nyebut surat keterangan kelakuan baik….gw butuh surat ini buat mengurus visa…berhubung sarjana sudah dekat jadi gw mulai menyusun rencana..salah satunya TR (temporary residence) nah salah satu kelengkapan gw butuh SKCK…

oke dengan ditemani pacar gw coba urus surat ini sendiri…gw pengen tau gimana ribetnya birokrasi di indonesia ini….berhubung mood juga lagi bagus…

oke step pertama gw ke RT minta surat pengantar yang nantinya bakal gw anter ke lurah trus dari lurah bakal dibuatin surat pengantar ke polres….

ke RT masih gampang….lo cukup bawa KTP and all done…!!!!! di ujung pertemuan gw dengan si RT gw nanya perihal adakah biaya yang harus di bayar….jawab RT simple….terserah mas aja…..berhubung mood baik gw kasih dah biaya sukarela tersebut….

lanjut kelurah…nyampe di kantor lurah suasana sepi….ada beberapa staff yang lagi haha hihi di ruang pelayanan…ada banner yang tulisan nya “TANPA MENGURANGI RASA HORMAT, PELAYANAN KAMI BEBAS PUNGLI DAN TIDAK MELAYANI TANDA TERIMA KASIH”..gw ketawa kecil dalem hati…gw udah nyiapin sebenernya..tapi si pacar malah bilang klo ga minta ga usah di kasih……tapi gw cuma pengen ngetes seberapa tinggi komitment tulisan tersebut..

begitu duduk, gw kasih surat pengantar dari RT…ga lama kelar, trus pegawai kelurahan nanya buat apa SKCK nya…gw jawab lempeng buat ngurus visa..bedasarkan arahan doi gw disuruh lansung ke polres….gw sempet nanya tandangan camat nya perlu ga? doi bilang kagak lansung aja ke polres….,sebelum gw cabut gw tes lagi nih..gw tanya ada biayanya ga bu??? lagi-lagi jawabanya sama terserah mas aja…...oke gw kasih lagi….

nyampe di polres gw udah PD…dokumen udah ada semua….nyampe di loket gw di kagetin sama jawaban sang penjaga loket…ini syarat-syarat kurang mas….perlu tanda tangan camat….lalu gw bilang tadi kata orang kelurahan ga perlu….di bales lagi sama yang jaga loket lempeng…emang biasanya kelurahan ga ngasih tau mas….mood mulai ancur…dikira gw dukun kali ya bisa tau dengan sendirinya….

untungnya kelengkapan lain yang harus di polres bisa di urus dulu…jadilah gw cap 10 jari di polres….isi form….cap jari….ga lama kelar….disini agak ekstrim…si pegawai lansung bilang biaya nya bisa di bayar disini…oke ga masalah….gw tanya berapa…jawab nya lebih lempeng lagi…..terserah mas aja….besar alhamdulilah kecil ya ga apa-apa mas.…-_____-“

gw ga ngerti dimana letak masalahnya? lo bisa bayangin gimana ribetnya birokarsi nya dari RT lo di oper ke lurah…camat…trus ke polres….blom lagi pungli nya…lo banyangin klo tiap stop lo harus bayar 10,000-20,000 boncos ga lo???

kenapa sih susah amat bilang “ ga ada biayanya….ini bentuk pelayanan negara ke masyarakatnya..” kenapa harus di jawab terserah aja….buat gw ini udah penyakit akut di indonesia…birokarsinya yang bertele-tele plus punglinya nya bikin yang bikin kita tersenyum kecut , gimana lo mau berharap bangsa lo mau maju klo ngurus hal kecil beginian aja udah jadi objek korupsi ??

dampak nya ke masyarakat juga jadi buruk….semua orang jadi males ngurus keperluan yang kaya gitu sendiri…dan akhirnya nyuruh orang lain buat ngerjain hal-hal yang ada hubungan nya sama birokrasi negara…di kepala pasti lansung kebayang gimana ribet dan liciknya tuh birokrasi ..walhasil sebagai warga lo jadi ga tau apa-apa…sekarang klo udah begitu siapa yang mau di salahin???

buat gw ga usah bermimpi untuk berantas kasus korupsi kelas kakap sekelas century….klo beginian aja ga bisa di berantas…untung tadi ada mobil jadi gw bisa pindah-pindah dari satu kantor ke kantor lainya dengan nyaman dan mudah….coba lo banyangin yang pake kendaraan umum….apa ga kasian??? udah di oper-oper trus pake acara di palak…..untung mood lagi bagus dan pacar setia mendampingi….klo kagak mungkin gw juga udah gerutu aja bawaanya….

Sobat Tumbr
Posting Lama ►
 
free counters
>

Copyright © 2012. Elang Biru - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Blog Bamz