Showing posts with label Pertanian Berlanjut. Show all posts
Showing posts with label Pertanian Berlanjut. Show all posts

Monday, January 27, 2014

Jenis dan Sifat Fisiko Kimia Plastik

By duwi siswanto | At 6:22:00 AM | Label : , , , , | 0 Comments
1. Plastik Termoset
Jenis plastik ini mengalami perubahan yang bersifat  irreversible. Pada suhu tinggi jenis plastik termoset berubah menjadi arang. Hal ini disebabkan struktur kimianya bersifat 3 dimensi dan cukup kompleks. Pemakaian termoset dalam industri pangan terutama untuk membuat tutup botol. Plastik
tidak akan kontrak langsung dengan produk karena tutup selalu diberi lapisan perapat yang sekaligus berfungsi sebagai pelindung.

2. Jenis termoplastik
Sebagian besar polimer yang dipakai untuk mengemas atau kontak dengan bahan makanan adalah jenis termoplastik. Plastik ini dapat menjadi lunak jika dipanaskan dan mengeras lagi setelah dingin. Hal ini dapat terjadi berulang-ulang tanpa terjadi perubahan khusus.  T ermoplastik termasuk turunan
etilena (CH2 = CH2). Dinamakan plastik vynil karena mengandung gugus vynil (CHz = CHz) atau polyolefin.
 
Poliolefin
 
a. Polietilen
Polietilen (PE), unsur atom-atom karbonnya bergabung melalui ikatan kovalen yang kuat. Antara rantai satu dengan yang lain dihubungkan oleh ikatan  V ander  Waals yang sifatnya jauh lebih lemah sehingga memberikan efek plastis.  Terdapat dua jenis polietilen yaitu Polietilen Densitas Rendah (PEDR) dihasilkan dari proses polimerisasi pada tekanan tinggi. Bahan ini bersifat kuat, agak tembus cahaya, fleksibel dan permukaannya terasa agak berlemak. Di bawah temperatur 60° C sangat resisten terhadap sebagian besar senyawa kimia. Di atas temperatur tersebut polimer ini menjadi larut dalam pelarut karbon dan hidrokarbon klorida. Daya proteksinya terhadap uap air baik, tetapi kurang baik bagi gas-gas yang lain seperti oksigen. Titik lunaknya rendah, sehingga tak tahan untuk proses steriilisasi dengan uap panas dan bila ada senyawa kimia yang bersifat polar akan mengalami stress cracking (retak oleh tekanan). Jenis polietilen yang lain adalah Polietilen Densitas Tinggi (PEDT) yang dihasilkan dengan polimerisasi pada tekanan dan temperatur rendah (50-75)° C memakai katalisator Zeglier, mempunyai sifat lebih kaku, lebih keras, kurang tembus cahaya dan kurang terasa berlemak.
 
b. Polipropilen
Polipropilen termasuk kelompok olefin, bersifat lebih keras dan titik lunaknya lebih tinggi daripada PEDT , lebih kenyal tetapi mempunyai daya tahan terhadap kejutan lebih rendah. Tidak mengalami  stress cracking  oleh perubahan kondisi lingkungan, tahan terhadap sebagian besar senyawa kimia kecuali pelarut aromatik dan hidrokarbon klorida dalam keadaan panas, serta sifat permeabilitasnya terletak antara PEDR dan PEDT .
 
c. Polivinil Klorida (PVC)
Polivinil Klorida dibuat dari monomer yang mngandung gugus vinil. PVC mempunyai sifat kaku, keras, namun jernih dan lengkap, sangat sukar ditembus air dan permeabilitas gasnya rendah. Pemberian  plasticizers (biasanya ester aromatik) dapat melunakkan film yang membuatnya lebih fleksibel tetapi regang putusnya rendah, tergantung jumlah  plasticizersyang ditambahkan.
 
d. V inilidin Khlorida (VC)
Mengandung dua atom klorin, merupakan bahan padat yang keras, bersifat tidak larut dalam sebagian besar pelarut dan daya serap airnya sangat rendah. Dapat menghasilkan film yang kuat, jernih dengan permeabilitas terhadap gas cukup rendah.
 
e. Politetrafluoroetilen (PTFE)
Bersifat sangat “inert” terhadap reaksi-reaksi kimia. Polimer ini bersifat halus, berlemak dan umumnya berwarna abu-abu. Koefisien gesekannya sangat rendah sehingga menghasilkan permukaan yang tidak mudah lengket serta bertahan pada daerah suhu kerja yang luas.
 
f. Polistiren (PS)
Bersifat sangat amorphous dan tembus cahaya, mempunyai indeks refraksi tinggi, sukar ditembus oleh gas kecuali uap air . Dapat larut dalam alcohol rantai panjang, kitin, ester hidrokarbon yang mengikat khlorin. Polimer ini mudah rapuh, sehingga banyak dikopolimerisasikan dengan batu diena atau akrilonitril.

Termoplastik Selain Kelompok Etilen
 
a. Poliamid (nilon), merupakan polimer yang dihasilkan dengan proses kondensasi. Nilon bersifat kuat, ulet, persentase kristalinitasnya besar, titik leleh dan titik lunaknya tinggi. Nilon mempunyai gaya gesek rendah, tidak mudah abrasi dan sukar ditembus gas.
 
b. Polikarbonat, polimer ini mempunyai titik leleh bervariasi sampai 300° C, kuat, ulet, keras dan tembus cahaya, serta mudah larut dalam pelarut hidrokarbon klorida.
 
Kopolimer
 
Monomer-monomer yang tersebut di atas dipolimerisasikan untuk menghasilkan suatu unit berulang tunggal yang disebut homopolimer . Dalam beberapa hal polimer dapat dibuat dengan proses adisi lebih dari satu macam monomer, atau dengan reaksi kondensasi tiga macam monomer . Dalam kedua hal tersebut, akan diperoleh unit berulang lebih dari satu jenis monomer yang disebut kopolimer .

a. Etilen V enil Asetat (EV A), terdiri dari 20% vinil asetat, sehingga sifatnya mirip dengan PEDR, dengan kelebihan dalam hal sifat tembus cahaya dan sifat fisis terutama fleksibilitasnya pada temperatur rendah, lebih sukar ditembus oleh uap air dan gas lain.
 
b. Kopolimer vinil khlorida, lebih feksibel, terutama dimanfaatkan sebagai film atau pelapis bahan yang memerlukan persyaratan sukar ditembus gas dan uap air. Banyak dimanfaatkan untuk memperbaiki daya proteksi bahan lain seperti kertas, polipropilena dan film selulosa.
 
c. Kopolimer polistirena, polimer ini mempunyai daya tahan pukulan yang jauh lebih baik dibandingkan polistirena, bersifat sangat sukar ditembus gas.

Sumber : Jurnal. Maj Kedokt Indon,  Volum: 57, Nomor: 2, Pebruari 2007.

Thursday, June 21, 2012

Indikator Pertanian Berlanjut

By duwi siswanto | At 4:30:00 PM | Label : , | 0 Comments
Indikator  Air 
 ==> Mengukur  kekeruhan  berarti  menghitung  banyaknya  bahan-bahan terlarut dalam air misalnya lumpur, alga, detritus, dan kotoran  lokal  lainya.  Apabila  kondisi  air  semakin  keruh  maka cahaya  matahari  yang  masuk  ke  air  semakin  berkurang sehingga  mengurangi  proses  fotosintesis  tumbuhan  air.  Hal ini  berdampak  pada  suplai  oksigen  yang  diberikan  oleh tumbuhan  air  juga  berkurang  sehingga  jumlah  oksigen terlarut  dalam  air  juga  berkurang.  Metode  cepat  untuk mengukur  kekeruhan  dilapangan  dapat  dilakukan  dengan menggunakan  ‘Secchi  disc’ atau  piringan  yang  berwarna hitam-putih. ‘Secchi disk’ ini digunakan sebagai tanda batas pandangan  mata  pengamat  ke  dalam  air,  semakin  keruh  air, batas pengelihatan mata semakin dangkal. 
==>Pengukuran  suhu  merupakan  faktor  penting  dalam keberlangsungan proses biologi dan kimia yang terjadi dalam di  dalam  air.  Tinggi  rendahnya  suhu  berpengaruh  pada kandungan  oksigen  di  dalam  air,  proses  fotosintesis tumbuhan air,  laju metabolisme  organisme  air  dan kepekaan organisme terhadap polusi, parasit dan penyakit.
==>Skala pH (tingkat kemasaman) berkisar antara 0 – 14 dengan pembagian  sebagai  berikut:  pH  <  7  tergolong  asam,  pH  =  7 tergolong netral, pH > 7 tergolong basa. Kondisi optimum pH air bagi makhluk hidup adalah pada kisaran 6,5 – 8,2. Kondisi pH  yang  terlalu  masam  atau  terlalau  basa  akan  mematikan makhluk hidup. 
==>Oksigen  terlarut/Dissolve  Oxygen  (DO)  merupakan  oksigen yang ada di dalam air yang berasal dari oksigen  di udara dan hasil  fotosintesis  tumbuhan  air.  Oksigen  terlarut  sangat dibutuhkan  tumbuhan  dan  hewan  air,  kekurangan  oksigen terlarut akan mematikan tumbuhan dan hewan air.

Indikator Biodiversitas dari Sisi Agronomi 
==>Keanekaragaman  species  tanaman
Informasi  penggunaan  lahan  pertanian  (landuse)  dan tanaman-tanaman  yang  ada  diatasnya  sangat  penting  bagi pengelolaan  lahan  skala  lanskap.    Penggunaan  lahan  dengan hamparan  tanaman  semusim,  tanaman  tahunan  maupun kombinasi  diantara  keduanya  mempunyai karakteristik  berbeda-beda  baik  secara  ekologi,  sosial  maupun  ekonomi.    Pengelolaan budidaya  tanaman  skala  lanskap  terdiri  dari  perencanaan tanaman  beserta  system  budidayanya,  keterkaitan  antar penggunaan  lahan  serta  rencana  upaya  konservasi  lahan  skala plot  maupun  skala  lanskap.    Salah  satu  upaya  konservasi  dalam budidaya pertanian diantaranya menerapkan pemilihan tanaman budiaya  berdasarkan  kemiringan  lahan yang disesuaikan dengan proporsi  tanaman pangan  semusim  dan  tanaman  tahunan
==>Pengelolaan Gulma
Gulma  merupakan  tumbuhan  yang  merugikan  dan tumbuh  pada  tempat  yang  tidak  dikehendaki.  Karena  sifat merugikan  tersebut,  maka  di  mana  pun  gulma  tumbuh  selalu dicabut, disiang, dan bahkan dibakar. Namun bila dikelola dengan benar  dan  optimal,  gulma  akan  memberikan  manfaat  dan meningkatkan  produktivitas  lahan.

Indikator Biodiversitas dari Sisi Hama Penyakit
Studi  habitat  merupakan  studi  ekologi  yang  mengkaji keanekaragaman  species  yang  ada  serta  mengukur  apakah sistem  pengendalian  alami  akan  berjalan  dalam  menekan populasi  hama  dan  penyakit.    Pengendali  alami  tersebut  dapat berupa  pesaing,  musuh  alami,  ataupun  agen  antagonis. Keanekaragaman  species  juga  akan  menentukan  kestabilan  dan kerapuhan  agroekosistem  terhadap  serangan  OPT  (Organisme Pengganggu  Tanaman).

Indikator Cadangan Karbon 
Indikator  karbon  terkait  dengan  isu  pemanasan  global yang  berkembang  saat  ini  adalah  berhubungan  dengan keberadaan  pohon  dan  ekosistem  yang  terbentuk.  Emisi  karbon dapat  dikurangi  dengan  menjaga  keberadaan  hutan  karena berfungsi sebagai  penyerap karbon di udara dan  menyimpannya dalam waktu yang lama. Peran lanskap dalam menyimpan karbon bergantung pada besarnya luasan tutupan lahan hutan alami dan lahan  pertanian  berbasis  pepohonan  baik  tipe  campuran (agroforestri)  atau  monokultur  (perkebunan).  Namun  demikian besarnya karbon tersimpan di lahan bervariasi antar penggunaan lahan  tergantung  pada  jenis,  kerapatan  dan  umur  pohon.  Oleh karena  itu  ada  tiga  parameter  yang  diamati  pada  setiap penggunaan lahan yaitu jenis pohon, umur pohon, dan biomassa yang  diestimasi  dengan  mengukur  diameter  pohon  dan mengintegrasikannya ke dalam persamaan allometrik.

Indikator Sosial Ekonomi 
Agar  sistem  bertanian  bisa  berkelanjutan,  maka  harus mempetimbangkan tidak hanya aspek finansial semata, dan juga tidak  hanya  mengejar  produksi  yang  tinggi  semata,  namun  juga harus  memperhatikan  aspek  ekologis,  produktivitas  jangka panjang serta sosial ekonomi yang lainnya.
Posting Lama ►
 
free counters
>

Copyright © 2012. Elang Biru - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Blog Bamz